Minggu, 13 Februari 2011

Kembali

Dalam pekatnya pagi dengan mata Ilahi;
Ternyata masih tabu dengan embun
Ini kali ke sekian aku kembali menyapa-Nya
Dalam untaian tangis berharap

Ilahi…
Andai Kau beri aku penghapus segala
Akan kuhapus semua masa lalu terkelamku
Agar aku dapat melihat Cahaya
Yang tertutup gelapnya kebodohan

Kau begitu Baik
Tetap Mencintai meski aku melukai
Memperhatikan meski aku melupakan
Memberi kesempatan meski aku melalaikan

Aku, Engkau jadikan pemenang
Namun syukur itu tertahan dalam perut
Kekasihku,
Dekaplah aku dengan hidayah-Mu

Maafkan…
Aku hanya terlalu takut
Dengan cemeti azab yang terancam mengawiniku
Namun belum jua mengindahkan aturan-Mu

Dzat Yang Mahasuci…
Bantu aku keluar dari lumpur ini
Mengusir semua kotoran yang terlampau pekat
Dengan awak

Jodohkan aku dengan pintu kebaikan
Ampuni ketika liar ini tak mampu kutahan
Saat aku berteman akrab dengan nafsu
Putuskan hubungan kami, Tuhan!

Senyum palsu itu
Hanya Kau yang Tahu
Topeng tak bermakna pun
Hanya Kau yang dapat Melihatnya

Ajak aku berlari
Mengarungi dunia penuh Nuur
Jauhkan aku dengan dzulumat
Dan bantu aku indahkan cinta-Mu

Bandung, 11 Februari 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar