Kursi-kursi melingkar itu berderet menjadi
Sarapan biru.
Namun angin selalu menjadi udara segar untuk paru-paru
Atau kerongkongan yang kering. terbasahi
Sementara Engkau masih berdiam di balik jeruji rindu
Dan menantikanku menangis dalam
Bercampur takjub. Lihatlah. Bayangan malam
Kau hentikan kepulan kabut dalam syahdu
Antara syukur dan rindu yang masih terperi
Kemari. Dengar degup jantung ini.
Asma-Mu masih basah di sana
(Seketika jantung gugup mendapatinya)
Terimakasih. Meski sarapan ini biru
Namun Kau kreasikan dengan pink dan kuning
Yang menyala dan tiada begitu saja berlalu
Aku masih menangis bersama haru
Disini, malam menjemputku di perbatasan
Dan aku mengalah dalam gelap
Entah berapa lama: lalu aku pasti terbangun
Sebelum membunuh diri dalam mimpi
21:54 Rabu, 21 September 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar