Ini tentang kesakitan
Merajam hidup melawan luka perih yang teramat
Bertahan dengannya yang semakin menusuk
Setia dalam air mata yang belum kunjung kering
Ini tentang kekecewaan
Seorang ibu menatap pilu anaknya
Berlutut pada Rabb meminta segala
Mengemis kasih sayang pada anak sendiri
Ada kecewa yang membuncah
Ketika lahir bahasa terminal di sana
Ada sakit yang menghujam
Berlarian mengejar mangsa; hati
Tegar!
Seperti mentari di tengah hari
Bertahan! Meski kutahu luka itu semakin hari
Semakin panasnya
Ada pilu yang tak kuasa ia ceritakan
Ada perih yang sudah tak bisa dibahasakan
Lelaki yang mengawininya
Adalah lelaki yang menyakitinya
Berharap cinta memayungi bahtera
Rumah tangga
Justru ia turut menyumbang kesakitan yang lebih
Sering menyakitkan
Tekanan itu, kulihat bersama gundukan air mata
Yang masih saja sulit menetes
Atau kian meninggi saat Rabb
Menantikan ceritanya sembari tersenyum
Rabb...
Yang Mahamenatap
Semoga Kau tengah dalam tatapan penuh rahmat
Aku yang lemah
Rabb...
Hanya Kau yang Tahu perihku
Namun Kau selalu disini
Menantiku berbagi cerita
Kau...
Yang tak pernah lelah menghiburku
Menginginkan aku menjadi kuat
Laa tahinuu wa laa tahzanuu
Sungguh beruntung...
Aku berada dekat dengan-Mu
Syukur ini takkan terperi
Terukir di dalam sanubari
Kau beriku tusukan luka beribu
Agar aku tetap bersandar dan mengadu pada-Mu
Kau sandungkan aku dengan masalah yang rumit
Agar ikhtiarku beriring dengan doa pada-Mu
Tuhan...
Kesakitannya adalah kesakitanku
Namun ia menjadi jembatan penghubung dengan-Mu
Ikhlaskan kami dengan ini, Tuhan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar