Jumat, 23 September 2011

sajak GM

Don Quixote

Ia menangis

Ia menangis untuk lelaki di atas kuda kurus

yang akhirnya sampai di sebuah dataran

di mana fantasi adalah hijau hujan

yang hilang ujung

di sungai asing.

Ia menangis,

dan lelaki itu

mendengarnya.

"Aku Don Quixote de La Mancha

majenun yang mencarimu."

Tubuhnya agak tinggi, tapi rapuh dan tua sebenarnya.

Ia berdiri kaku.

Cinta tampak telah menyihirnya

jadi ksatria dengan luka

di lambung.

Tapi ia menanti perempuan itu melambai

dalam interval grimis

sebelum jalan ditutup

dan mereka mengirim polisi, tanda waktu,

kematian.


Ke Arah Balkon

Ke arah balkon itu Don Quixote de La Mancha bertanya, "Ke manakah jalan ke kastil yang dulu ada dan kini tidak?"

Seorang perempuan menengok ke bawah sebentar. Rambutnya yang lurus, hitam, membuat bayang pada langsat pipinya. Matanya kecil, mengingatkannya pada punai yang terbidik.

"Engkau ketakutan!"

Dan laki-laki yang merasa dirinya gagah itu pun turun dari kudanya.

Ia berjalan mendekat. Ia melihat, sekilas, tangan Peri Kesepian

mengangkat tubuh rapuh itu ke dalam sebuah gumpalan mega,

di mana setiap perempuan akan ditinggalkan.

"Jangan!"

Don Quixote menghunus pedangnya yang retak. Tapi semua bergerak pelan.


Aku Akan Tugur

Aku akan tugur sepanjang malam

di puri tua itu, Dulcinea.

Menjaga mimpimu,

meski kau tak pernah ada.

Jalan putih, bulan putih,

fajar jauh, aku sendiri

seperti tonggak

sebelum gempa.

Kutulis sajak yang lelah,

mungkin

di pelana dingin

seperti somnabulis terakhir

yang menempuh pasir, sepanjang malam

dari tingkap itu, Dulcinea,

dengan kasut sedih

kata-kata


Rocinante

Rocinante. Tukang cukur dan padri dusun

mendengar alarm itu:

luka waktu,

pada ringkikmu,

jerit yang panjang,

dari sunyi sierra,

tiga jam nasib

sebelum ajal tiba.

Ada seseorang yang menengok ke luar

dan berbisik, "Padri,

kulihat rambut suri

yang rembyak gelap."

Itu rambutmu, Rocinante,

seperti ilalang bukit

yang basah merah

karena darah.

Tapi katakan, apa sebenarnya

yang telah kukalahkan?

Bintang, batu karang, mimpi manusia,

atau kesedihan? Aku takut.

Maka jika esok aku mati,

dengan kaki tetap di sanggurdi,

bawa aku ke laut, Rocinante,

dari kegilaan ini.


Sancho Panza Mendiktekan Sepucuk Surat buat Istrinya

Telah kuikuti seorang yang murung, Teresa,

ke hutan gersang

sebelum Murcia: ia

yang menorehkan pedangnya

ke pohon-pohon

di batas ngarai.

Aku tahu ia terbujuk

soneta yang sedih

dan kecewa

pada repetisi sungai.

Berhari-hari ia berjalan

seperti ksatria Amadis

menyimpan kwatrin kesetiaan

seperti menyimpan tangis.

Seakan-akan ada

khayal dan kata

yang menghukumnya.

Tapi ia tak mengacuhkannya.

Tiap pagi ia lafalkan

nama seorang gadis

yang dikenalnya

dalam kaligrafi,

sebuah X di pucat porselen –

X: sesuatu yang tak diketahui,

atau X yang mungkin dari "Xin,"

"Xin": barangkali "hati."

Dan ia ucapkan itu semua

dengan kesunyian

di matanya.

Sementara Maut orang Mur

mengejarnya

dari arah matahari,

hitam dan tajam, Teresa,

seperti sabit tua,

meskipun ajal itu

konon pernah berkata,

"Don Quixote, surga

telah melupakanmu, neraka

tak mengenalmu."


Aku Pergi, Padri

Aku pergi, padri, ke dalam olok-olok musim semi. Dengan serenade yang lucu.

Dengan tema yang aku tak akan tahu. Mimpi merah padam. Brahi tujuh radang.

Dan rindu: mungkin sebuah narasi yang tak panjang. Tapi aku pergi.

Aku pergi meski ada waham dalam hujan, seperti katamu. Aku pergi karena ada

kegaiban di dataran. Yang kau tak tahu.


Tidurlah, Sancho

Tidurlah, Sancho, dengan dengkur yang sederhana.

Kosmos telah melupakanmu. Tidurlah dengan

mimpi yang tanpa arah, dengan lelap dalam sihir

orang-orang yang tak berdaya. Tidurlah dengan

ambisi yang mati. Kesabaran adalah mawar yang

merambat, lumut yang tak takluk karena salju.

Tidurlah untuk malam yang tak terulang lagi.


Jin

Jin yang menyulap kincir

dan gergasi

telah terbang ke bukit Algiers

dan tak akan kembali

ke plateau ini.

Pada pukul setengah lima.

pagi menampik kelelawar

yang memekik.

Pada pukul setengah sebelas

hari akan membakar amsal

para rasul

yang tak dimengerti.

Dan hanya akan ada matahari

Jalan lurus ke Albacete.

Cinta yang cepat selesai.

Kisah kita yang klise.


Duduklah di Tempat Ini

Duduklah di tempat ini, Sancho. Di pulau imajiner ini

waktu adalah gurau. Orang-orang berbincang tentang apa arti soka

bila ditanam di dekat tanjung, apa arti ranting

yang disunting dengan sajak, apa arti korsase

yang disematkan pada topi – dengan kata lain, mereka ingin berkata,

hidup terkadang tak sia-sia, ada kerja, ada politik,

dan sedikit amal ketika tuhan tampak dari lobang langit

dan sorga seperti lantai sehabis dipel, hijau, hijau, hijau…

Duduklah di tempat ini, Sancho.


Di Teater Boneka

Di teater boneka ini,

siapakah yang akan mencegah

orang Mur datang kembali

menguasai lembah?

Tujuh ksatria gugur.

Alir Algodor gelap

oleh darah.

Mungkin ada kastil berikutnya yang akan jatuh.

Sebab suara jerit

telah memekakkan pentas

sebelum tembang Visigoth

dari bukit-bukit…

Di sini adegan berhenti.

Penonton hening.

Sampai tiba-tiba dari baris depan seorang lelaki berdiri,

"Tidak!" – aksennya asing – dan ia menghunus pedang:

"Beri aku bagian realitas yang hilang!"

Ruang itu pun termangu.

Tapi di teater boneka

tak ada yang bisa disajikan

selain gerak dan kata-kata.

"Para penonton harap tenang!"

sang penata lakon akhirnya bersuara.

"Tapi aku datang untuk membebaskan,"

jawab Don Quixote gemetar.

"Saya tahu. Tapi kenyataan

tak bisa saya temukan lagi

setelah layar itu."

Ada yang sayu di kalimatnya.

Tapi tak lama kemudian di teater boneka ini pentas terbentang lagi. Di antara layar mereka lihat Don Quixote: ia berdiri menghadang orang Mur – ia menghadang orang Mur datang kembali.


Justru

Justru karena tenung, telah diselamatkan kita dari jemu zaitun

dan warna sama pohon-pohon encina. Memang masih ada sore

yang hanya itu dan dusun yang tak berubah. Tapi ternyata hari

bisa berkelindan dengan mimpi, dan kau dan aku lahir kembali,

tercengang dalam cinta yang fiktif, percaya pada harap

yang tak bersungguh-sungguh.

Justru karena tenung, aku tak akan membebaskanmu.

Kemarin kucambuk sendiri tubuhku, sakit, agar bangun,

tapi apa yang terjadi? Mimpi itu hanya berubah sedikit:

bilur di kulit itu jadi garis biru, seakan huruf pertama Sayid Hamid,

sang pencerita yang membuat kita ada. Sejarah memang bisa

seperti luka gores. Tapi lihat, hidup adalah tenung:

aku milik sahibul hikayat, engkau kisah Cervantes.

Dan kita berbahagia. Dan kita berpura-pura.


30 Menit Sebelum Sayid Hamid

30 menit sebelum Sayid Hamid Benengeli menghentikan hikayatnya, Don Quixote telah merasa sesuatu tengah terjadi.

Senja mencegatnya di jalan turun ke utara, setelah San Cristobal. Duduk gontai di punggung Rocinante, ia melihat ke langit, mencari arah. Tapi bintang tampak kembung, bimasakti keruh, dan di belakangnya, tak ada lagi rasi salib selatan.

Dataran kering di bawah itu seakan-akan negeri yang tak pernah memanggilnya.

Ia merasa letih sebenarnya, setelah Sierra Morena. Ia berbisik, seperti berdoa: "Jika aku boleh memilih, Sayid, aku tak ingin di sini lagi."

Tapi malam adalah monolog pohon-pohon. Bahkan di tebing Guadalen yang hitam, suara arus ikut mengambil alih percakapan.

Barangkali kita hanya sebuah parodi, ia ingin berkata lagi, tapi ia tak yakin kepada siapa. Sancho, teman yang setia itu, hanya memandangi gerak sungai. Ia mungkin telah merasa, hari tak akan lagi berani sia-sia: Dulcinea adalah cinta yang gagu, tuanku, imajinasi adalah kabut pagi.

Dan selebihnya sunyi.

Don Quixote mengerti. Pada saat itulah Sayid Hamid Benengeli mulai membuat tanda terakhir dengan dawat di kertasnya, seperti sebuah titik, seperti melankoli. Meskipun yang ingin ditulisnya adalah epilog yang berbahagia: "Dan Don Quixote pun melihat, dengan setia pahlawan terakhir telah direnggutkan jantungnya."

"Ya, di jurang gua."


Pada Bulan

Pada bulan yang takabur

kukaitkan tali,

dan satu stanza mazmur

dan potret seorang mati

Mungkin potretku, mungkin

kesepianku,

mungkin warna dalam cermin:

sesuatu yang hampir biru.

Kau tak ‘kan mengenalku, Sancho.

Langit menghapusku.

Maka biarkan kupanjat tali

ke bulan takabur, angin yang abadi


2007
Goenawan Mohamad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar