“apa??? Kau sudah gila Ci??”
“tidak! Sudah lama ku pendam semuanya. Hanya saja selalu tak pernah kutemui waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu, Jack”
“tapi Ci, kau itu perempuan! Mana mungkin kau mencintai kekasihku....
...kecuali, kau...
“lesbi?????
Percakapan di lorong belakang sekolah yang gelap, sepi dan ditakuti banyak siswa karena auranya yang mencekam itu mendadak lebih mencekam dari biasanya. Yah, percakapan sepasang sahabat yang terbentuk sejak mereka masih piyik itu benar-benar berbeda dengan biasanya. Ci dan Jack, alias Chika dan Jaka yang notabene adalah orang-orang yang senang bergurau, hampir tidak pernah membicarakan hal serius. Pemandangan tadi adalah sesuatu yang baru bagi penulis. Bagaimana tidak, penulis tahu betul apa dan siapa mereka. Penasaran dengan mereka??? Segera cekidot!!!
Jack atau Jaka Sudrajat, adalah salah satu jejaka di kabupaten Bandung yang memiliki hobi memancing. Bukan memancing ikan atau udang. Hobinya itu memancing emosi. Terlebih emosi orang-orang terdekatnya. Emih atau ibunya. Kerap dibuat jantungan setiap detik karena ulah Jaka. Oops, dia ingin dipanggil Jack, biar gaul katanya. Macam mana pula, dia menduduki telur-telur yang baru saja keluar dari induk ayam. Saat itu sang induk sedang dibawa pergi Bapaknya. Biar cepat menetas, katanya. ‘Lalu menetas?’ tentu saja iya. Menetas bukan menjadi anak ayam tentunya. Tapi menjadi bakal sarapan dia untuk didadar atau diceplok, atau mungkin disulap menjadi nasi goreng biar sedikit elit. Sang Emih yang saat itu sangat berharap dengan kehadiran anak-anak ayam yang kelak akan menjadi ayam dewasa yang mahal untuk dijual, nyaris pingsan menyaksikan kenyataan itu. Hancur sudah harapannya bersama telur-telur ayam itu. Namun dengan watados (wajah tanpa dosa), Jack berkata, “sudahlan Mih, ikhlaskan... mungkin belum rezeki kita”. Kalau sedang tidak berpuasa, mungkin akan ada saja sesuatu yang mendarat di mukanya. Emih dan Bapaknya Jack itu berpuasa hampir setiap hari senin dan kamis. Semua itu dilakukan agar anak-anaknya bisa makan dan sekolah layaknya teman-temannya. Sekalian menabung pahala. Sekalipun mungkin mereka tidak punya banyak uang di dunia ini, namun tidak dengan di akhirat, insya Allah kata mereka. Dia berasal dari keluarga sederhana tapi bahagia. Gayanya yang katrok, ndeso dan kawan-kawannya itu membuat hampir tidak ada perempuan yang meliriknya. Apalagi di tahun 2010 ini. Masih ada gitu nama Jaka Sudrajat?? Sejak SD dia berambisi memiliki kekasih seperti Dian Sastro Wardoyo. Kalau dilihat dengan kacamata orang normal, penampilannya lumayan. Lumayan bikin jengkel. Bagaimana tidak, itu rambut keriting nanggung panjangnya yang sebenarnya keren dipaksa lurus dengan setrikaan Emihnya. Mungkin inginnya sih direbonding atau catok. Apa daya tangan tak sampai. Di rumahnya hanya ada setrikaan. Alhasil, nanggung, katrok dan yah....tidak sekali (kalau bahasa jaman sekarangnya sih, engga banget!).
Jack berteman dengan Chika, atau Ci. Ci adalah anak anggota DPR. Kehidupannya berbanding terbalik dengan Jack. Namun mereka tidak pernah merasa malu atau tidak cocok untuk pergi kemanapun bersama. Lucunya, Ci yang kehidupannya serba terfasilitasi justru ingin terlihat seperti orang biasa. Dari penampilan, nama panggilan, tingkah laku. Benar-benar berbanding terbalik dengan Jack. Padahal namanya 2010 banget, Chika Adhelia Silalahi. Keturunan batak dia. Justru ingin dipanggil Ci, yang terdengar seperti panggilan-panggilan gadis desa. Kalau dibelikan baju baru, sengaja dia buat lecek sebelum mengenakannya. Dia bilang, benci dengan kemewahan. Karena kemewahan telah membuat ayahnya berubah dan membuat ibunya mengakhiri hidupnya mendahului ketentuan Tuhan. Sejak Ci berusia 10 tahun, ayahnya diangkat menjadi anggota DPR. Dari situlah kehidupannya berubah 180o. Ci menjadi broken home setelah ayah dan ibunya sering bertengkar karena kehadiran pihak ketiga yang sangat nyata. Mereka tidak selingkuh di balik Ci dan ibunya. Dengan lancang mereka bercinta di depan mata Ci dan ibu. Ayahnya pikir, dia berhak melakukan apapun karena dia punya uang. Dan kehidupan Ci dan ibu tergantung padanya. Berulang kali Sang ibu meminta cerai, namun tak kunjung dikabulkan. Habislah kesabaran beliau. Kalap, khilaf dan kawan-kawannya menguasai bathin. Habislah nafas beliau setelah memotong urat nadi dengan pisau dapur yang diasah sedemikian tajam sebelumnya. Semakin menjulang tinggilah kebencian Ci terhadap ayahnya. Namun di Bandung ini dia tidak mempunyai saudara dan dia terpaksa tetap tinggal bersama ayah dan rumah yang sangat dia benci. Memang, ayahnya tidak menikah lagi. Namun dia bercinta dengan banyak perempuan yang dia ‘beli’ dengan uangnya. Itulah mengapa Ci sangat membenci kekayaan. Tidak seperti dulu, ketika mereka masih hidup dalam gubuk. Sangat harmonis dan agamis. Setiap malam berkumpul, bercanda, Ci berbagi cerita tentang sekolah dan teman-temannya, mengaji bersama. Berulang kali Ci memohon kepada Tuhan, agar mengembalikan kemiskinannya kalau itu dapat membuat ayahnya tersadar dan kembali seperti dulu. Namun mungkin ini sudah merupakan kehendak Yang Mahakuasa. Ci percaya dan yakin, pasti ada hikmah di balik ini semua. Ci melihat ayahnya benar-benar selalu dengan pandangan benci yang sangat. Hingga dia memiliki pikiran kalau lelaki itu seperti ayahnya. Akan sangat hangat dan baik ketika ia butuh. Namun keluarlah taringnya, saat tak lagi butuh.
Hanya Jack, teman bersandar Ci. Jack tempat Ci memuntahkan semua unek-uneknya. Kebenciannya terhadap sang ayah, tentunya dengan gaya bahasa yang santai sehingga suasana curhat pun tidak terasa mencekam.
Suatu ketika, mereka duduk di bangku SMA. Jack berlari menghampiri Ci dengan wajah yang sangat sumringah. Ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Dengan wajah yang mengundang jitakkan itu, Jack berkata
“dunia sebentar lagi kiamat, Ci!”. Ci yang sedang menyantap cilok yang baru saja mendarat di mulutnya itu sekejap memuntahkannya ke hadapan wajah Jack. Shock dia!!! Tidak menjawab, hanya menunjukkan ekspresi yang kalau dibahasakan artinya ngomong apa kamu?
“iya, dunia sebentar lagi kiamat!”
Ci tiis karena sudah sangat paham dengan Jack dan melanjutkan menyantap cilok kesayangannya. Yah, dia memang sudah gila!“Ci, saya dapet pacar!!”
“he? Manusia itu???” dengan nada heran namun tetap mengutamakan wajah tiis karena tidak mau termakan omongan basinya Jack.
“serius Ci... saya ga ada niatan macarin dia. saya Cuma bercanda bilang kalau saya suka dia. Eh, dia ngajakin pacaran!”
“iya, dia teh manusia bukan??”
“heuh... bukan Ci, dia anak kerbau ! Manusia lah, anak pak RT! Si Rora!!” jawabnya dengan logat sundanya yang kental.
“yang mana yah? Pak RT punya anak perempuan gitu? Perasaan anak pak RT si kang Tanto sama kang Ardi aja, Jack!” kali ini entah Ci sedang melawak, meledek atau memang serius.
“elaaah, Ci... sudahlah, berikan selamat untukku. Ini yang pertama aku pacaran. Daripada kau! Mana lelaki yang kau taksir?? Hendak jadi perawan tua kau Ci!!ahahaha”
*kriiing...kriiing*
Handphone Ci berdering, terdapat nomor tak dikenali memanggil. Karena Ci sedang tidak ada kerjaan, jadi dia angkat teleponnya, kalau sedang banyak kerjaan sih, biasanya dibanting teleponnya. Mengganggu! Katanya.
“yah, Ci disini..”
“halo Ci, ini saya Rora.”
“he? Rora siapa kau?”
Padahal baru saja tadi siang diceritakan Jack. Dasar pelupa!“ohh iya, Rora yang matanya sliwer itu ya? Kok mau sih kamu sama Jack?ckck. Ada apa pula kau?”
“ahahaha... Jack kan temanmu, Ci.. ko gitu? Engga... Cuma disuruh telpon kamu sama Jack,”
“wah... dasar tu Jack, pamer banget! Makin pengen muntah aja bawaannya si sayah. Maaf yah, Rora.. Jack itu emang kadang-kadang ngota (seringnya sih kampungan). Emang kamu suka beneran yah sama Jack.....”
“hng, dia polos Ci... beda sama cowok-cowok lain...............
......
...
Semakin panjang dan memanjang saja pembicaraan mereka. Hampir tiap malam Rora menelpon Ci untuk berbagi cerita tentang Jack (awalnya), kemudian mereka saling curhat semakin jauh, tentang keluarga, tentang pribadi, dan Ci menemukan teman curhat yang pas dan benar-benar membuatnya nyaman. Ada chemistry yang berbeda dari Jack. Baru kali ini dia merasa nyaman curhat, biasanya Jack selalu melayangkan humor disela-sela curhatan Ci yang memang tidak bernada serius juga. Namun Rora, dia memberikan apa yang tidak Jack berikan, yaitu perhatian dan pengertian yang dulu pernah ia dapat dari sang ibu. Pernah di suatu malam, Rora kehabisan pulsa dan dia tidak bisa menelpon Ci. Automaticly, Ci menelpon Rora dan bertanya, “mengapa tak kunjung datang teleponmu yang sedari tadi kutunggu ...............” sapa awalnya dengan bahasa alay yang biasa mereka gunakan. Ci dan Rora tidak sadar kalau diantara mereka ada sesuatu yang aneh. Menelpon di setiap malam adalah suatu kewajiban. Seharusnya Rora menelpon Jack yang notabene adalah pacarnya. Tapi memang tidak mungkin Rora menelpon Jack malam-malam, siang, pagi, sore! Yah, Jack tidak punya handphone! 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan. Rutinitas itu berlanjut, dan Jack tidak ada perubahan. Tak kunjung membeli handphone. Ada sesuatu yang Ci rasa dari Rora. Sosok keibuan Rora yang membuat Ci nyaman.
Termenunglah dia di suatu malam. Teringat Rora, perhatiannya, kasih sayangnya. Benar-benar seperti ibu! Terlintas dalam benaknya, ingin selalu bersama Rora. Kapan dan bagaimanapun!
“Rora.....”
“aku sayang kamu......”
“Iya Ci, Rora juga sayang kamu...”
Disinilah kesalahpahaman terbentuk. Yang Ci pikir, Rora juga menyayanginya sama seperti dia. Setelahnya, Ci menggenggam erat tangan Rora dan ......
“Ci, apa yang kau lakukan!!!” sentak Rora yang kaget melihat Ci hendak mencium bibirnya.
“Rora, kamu bilang kamu juga sayang sama aku?” Ci mempertanyakan pernyataan Rora beberapa detik lalu.
“Ci, ga gini .........................
Setelah keadaan mendingin, di suatu hari mereka membicarakannya serius tanpa sepengetahuan Jack. Panjang lebar Ci ceritakan, termasuk tentang kebencian Ci terhadap lelaki. Selama ini tak pernah satu pun ada lelaki yang dicintainya. Sekalipun Toni, coverboy di SMA Ci bertekuk lutut pada Ci, namun tak sedikitpun hati terenyuh untuk menerima cintanya. Dan, Rora mengerti keadaan Ci. Dengan tidak menghilangkan sedikitpun sifat keibuannya, Rora menyarankan untuk Ci mengatakan hal ini pada Jack. Tidak baik berbohong, menurutnya. Awalnya sama sekali tidak diterima saran Rora itu. Namun Rora merasa tidak nyaman dengan Ci yang seperti ini. Dia pun tidak tahu harus memulai dari mana untuk menceritakannya pada Jack.
“kalau kamu memang menyayangiku, Ci... tolong, lakukan demi aku...” ucap Rora dengan terpaksa.
Hampir setahun Ci mencari-cari waktu yang tepat untuk jujur pada Jack.
“apa??? Kau sudah gila Ci??”
“tidak! Sudah lama aku pendam semuanya. Hanya saja selalu tak pernah kutemui waktu yang tepat untuk mengatakannya padamu, Jack”
“tapi Ci, kau itu perempuan! Mana mungkin kau mencintai kekasihku....
...kecuali, kau...
“lesbi????? Yah! Pernah kau lihat aku melirik lelaki? Pernah kau tahu ada lelaki yang aku taksir? Pernah kau dengar aku menerima cinta lelaki-lelaki yang mengantri di belakang sana? Tidak kan?? Aku benci lelaki, Jack!!! Ayah itu lelaki!! Lelaki itu ayah!!!!!!”
“buka matamu, Ci BUKA!!! Ayahmu memang lelaki, tapi tidak berarti lelaki itu ayahmu!!! Contohnya aku, ayahku!!”
“yah, karena kau dan ayahmu miskin!”
kalo aku sih ingin bilang:
BalasHapusjack, I love You.. :D
(padahal cuma baca judulnya, hehe)