Ia menyelinap bersembunyi di balik kerumunan awan hitam yang pekat. Matanya terkadang genit, mengintip dari balik mega-mega. Sesaat aku berpaling untuk melanjutkan rutinitas malam. Hiasan mewah bertahtakan bintang itu menjadikan ia semakin megah di tataran langit. Bulir-bulir embun yang siap terjun ke bumi mambasahi kelopak matanya. Kau, malu-malu menampakkan wajah manis itu, perlahan indah dan teranglah rona wajah langit setelah penggalan wajahmu tertampak. Ini masih pertengahan waktu kau hadir. Namun indahmu, sedi
kit menggambarkan Indahnya Tuhan. “Dia itu indah, dan menyukai keindahan”. Oh, Bulan...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar