Dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Seorang muslim adalah saudara sesama muslim, tidak boleh menganiaya sesamanya, tidak boleh membiarkannya teraniaya dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa (kepatuhan kepada Allah) itu letaknya disini….” Dan beliau mengisyaratkan ke dadanya. Perkataan ini diulanginya sampai tiga kali. ”Cukup besar kesalahan seseorang, apabila dia menghinakan (merendahkan) saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap sesama muslim, terlarang menumpahkan darahnya (membunuh atau melukai), merampas hartanya dan merusak kehormatannya (nama baiknya).”
Dari hadits di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa sesama muslim adalah saudara. Dan saudara satu dengan saudara lainnya adalah satu kesatuan atau satu tubuh. Bagaimana mungkin kita melupakan organ tubuh kita sendiri???
"Dimanapun adzan dikumandangkan, di pojok negara manapun, itu adalah negara kita! Itu adalah saudara kita!" kalimat Ustadz Sulung Baginda pendiri KSP (Kajian Studi Palestina) UPI yang masih basah terdengar di telinga. Kalimat yang begitu menampar saya. Bagaimana mungkin kita di Indonesia, negara yang telah bebas dari jajahan secara fisik menggunakan waktu dengan sia-sia. Tidak seperti saudara-saudara kita di Palestina. Mereka sama dengan kita. Mendapatkan jatah waktu yang sama dalam 1 hari yaitu 24 jam. Namun ada perbedaan mencolok antara kita dan mereka. Penggunaan waktu! Mereka menggunakan waktunya untuk berjihad fii sabilillah dan membela agama Allah yang Haq. Sedangkan kita cenderung futuur dalam memanfaatkan 24 jam itu. Mereka adalah saudara-saudara kita yang sudah terjajah selama 59 tahun dan masih tetap terjajah hingga waktu yang belum kita tahu. Hanya saja, satu hal yang kita harus tahu. Mereka tidak akan menyerah!!!
Semangat juang mereka untuk meraih ridho Illahi sudah patut kita tiru. Tanah Palestina adalah tanah jihad. Kata Ustadz Berlin, "siapapun yang tinggal di tanah tersebut (asalkan niat karena Allah) sudah terhitung jihad fii sabilillah. Sahabat, tidakkah engkau rindu berada di sana?" jelasnya. Ada yang tidak peduli saat nyawanya melayang ketika ia dalam keadaan islam. Bagaimana dengan kita???
Setelah Zionis a.k.a Israel berhasil menguasai Palestina, mereka sudah mengincar Indonesia sebagai negara selanjutnya yang akan dijajah.
Ayo kita bantu Palestina.
Namun ternyata masih saja ada orang yang berkata, "untuk apa menolong Palestina? Negara kita pun masih banyak yang harus ditolong!"."Analoginya seperti ini, jika rumah kita adalah rumah ketiga dari empat rumah yang berderet. Lalu di suatu hari, rumah nomor 1 itu mendapat musibah kebakaran dan kita hanya berpikir, 'ah, itu kan bukan rumah kita' lalu tidak melakukan apapun untuk membantu menyelamatkannya, maka api itu akan menjalar ke rumah nomor 2 dan selanjutnya ke rumah kita, rumah nomor 3. sama dengan Palestina, jika kita tidak menolongnya, maka lambat laun Israel akan menjalar ke negara kita."
Lalu masihkah kita tega membiarkan ini semua terjadi? Kita hidup disini, ditakdirkan tidak sendiri. Diciptakan pula orang-orang yang akan membantu kita, menemani, menghibur dan lain-lain. Semua itu adalah perilaku yang menguntungkan bagi kita. Namun jika perkataan ini diputar. Penulis menyampaikan ini pada orang-orang yang ditakdirkan untuk menemani Anda, Anda-lah pihak yang menjadi penguntung bagi mereka. Terbayang? Karena di dunia ini berlaku hukum sebab-akibat (yang orang Zionis katakan hukum karma).
Suatu hadist lain meriwayatkan, “suatu hari, akan ada orang-orang yang menghadap Allah dengan pakaian cahaya. Mereka bukan nabi dan syuhada. Sehingga nabi dan syuhada pun iri melihat mereka. Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah...”
Suatu hari, Ustadz Sulung Baginda pernah bercerita pada penulis, bahwa ketika ia berbincang-bincang dengan seseorang dari Palestina, begini kronologisnya:
“Saya ingin sekali pergi kesana, membawa massa yang banyak untuk membantu Palestina...” ujar Ustadz Sulung.
“Tidak perlu kalian pergi ke Palestina, kami di Palestina merasa senang kok. Karena setiap hari disuguhkan lahan jihad. Kalian hanya tinggal perbanyak ibadah dan berdoa untuk kami...”
Seketika air mata ini meninggi mendengarnya, betapa luar biasanya orang-orang Palestina yang ikhlas dalam memandang semua ini. Ketidakadilan yang setiap detik mereka alami dipandang sebagai lahan jihad yang tak berujung. Artinya mereka semua berkesempatan menjadi syuhada di akhirat kelak.
Subhanallah...
Teman-teman, tidakkah kita merasa iri dengan mereka? Tidakkah terbesit keinginan wafat sebagai mujahid di benak kita? Teman-teman, belum lupa kan, tentang istimewanya para mujahid? Bahkan ia tak perlu dimandikan, pakaiannya tak perlu diganti untuk mensucikan dirinya. Tidak irikah teman-teman?
Wallahu alam bisshawab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar