Jumat, 05 Agustus 2011

Undak-usuk Basa Sunda = Undak-usuk Bahasa Jepang?

Dibuat untuk memenuhi tugas perkuliahan Gengogaku Gairon
Nama : Nursyifa Azzahro
NIM : 0902500
Kelas : 4c


Pada kesempatan kali ini saya akan membahas mengenai Undak-usuk Basa Sunda dan kemiripannya dengan undak-usuk (tingkatan bahasa) dalam bahasa Jepang. Layaknya bahasa Jepang, bahasa Sunda juga memiliki tingkatan bahasa yang digunakan. Tentu ada maksud tersendiri mengapa mereka memiliki tingkatan bahasa tersebut. Disini saya akan mecoba menguraikan mengapa pada bahasa Sunda dan kemiripannya dengan bahasa Jepang. Memiliki tingkatan bahasa yang tidak dimiliki bahasa Indonesia. Kita sebagai pembelajar bahasa yang memiliki tingkatan bahasa tersebut tentu tidak sedikit menemukan kesulitan dalam memelajarinya.

Bahasa Sunda adalah bahasa yang dipakai sekitar 27 juta kepala di Indonesia. Pengguna terbanyak kedua setelah bahasa Jawa. Sesuai dengan sejarah kebudayaannya, bahasa Sunda dituturkan di provinsi Banten khususnya di kawasan selatan provinsi tersebut, sebagian besar wilayah Jawa Barat (kecuali kawasan pantura yang merupakan daerah tujuan urbanisasi di mana penutur bahasa ini semakin berkurang), dan melebar hingga batas Kali Pemali (Cipamali) di wilayah Brebes, Jawa Tengah.

Karena pengaruh budaya Jawa pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, bahasa Sunda (terutama di wilayah Parahyangan) mengenal undak-usuk atau tingkatan berbahasa. Dahulu, undak-usuk basa sunda memiliki 6 tingkatan, yakni basa kasar, basa sedeng, basa lemes, basa lemes pisan, basa kasar pisan, dan basa panengah. Namun setelah melalui suatu kongres bahasa Sunda, ditetapkanlah menjadi 3 tingkatan saja, yaitu basa lemes keur batur (bahasa halus untuk orang lain), basa loma (bahasa akrab) dan lemes keur sorangan (bahasa halus untuk diri sendiri).

Namun, di wilayah-wilayah pedesaan/pegunungan dan mayoritas daerah Banten, bahasa Sunda loma (bagi orang-orang daerah Bandung terdengar kasar) tetap dominan. Berikut contoh undak-usuk basa Sunda:

No. Lemes (keur sorangan) Basa Loma Lemes (keur batur)
1. Neda - Dahar - Tuang
2. Pun Bapa - Bapa - Tuang Rama
3. Dongkap - Datang - Sumping
4. Béntén - Béda - Béntén
5. Mondok - Saré - Kulem

dan kemiripannya dengan bahasa Jepang, yaitu:

1. 食べる - 食べます - 召し上がります
2.いる - います - いたします

Lalu, apa manfaat undak-usuk basa dan bagaimana penggunaannya?
Seperti apa yang telah disebutkan di atas, undak-usuk basa merupakan warisan dari pengaruh pada masa kekuasaan kerajaan Mataram-Islam, yang salah satu manfaatnya adalah sebagai pembeda. Bahasa digunakan dengan melihat terlebih dahulu siapa lawan bicara. Lawan bicara yang secara status lebih tua atau kedudukannya lebih tinggi maka pembicara harus menggunakan tingkatan sopan (untuk orang lain) atau lemes (keur batur) dan dalam bahasa Jepang dinamakan Sonkeigo. Sama halnya dengan bahasa Jepang, tingkatan ini untuk mengormati orang yang menjadi topik pembicaraan dan kepada lawan bicara. Pembicara harus menggunakan ragam halus untuk menjaga hubungan baik di lingkungan sosial masyarakat terhadap orang yang menjadi topik pembicaraan dan terhadap lawan bicara.

Contoh:
Bapa tuang sangu di dapur.

お父さんは台所で召し上がります。

Lain halnya jika lawan bicara adalah orang yang setara secara status dan kedudukan, misalnya teman. Jika menggunakan tingkatan sopan (untuk orang lain) atau lemes (keur batur), sama halnya dengan membangun tembok perbatasan sehingga tidak tercipta kesan akrab. Untuk memunculkan kesan akrab dalam lingkungan pertemanan, maka pembicara harus menggunakan basa loma atau akrab, jika dalam bahasa Jepang adalah bentuk biasa atau Futsuu kei. Hindari pemakaian bahasa tingkat ini kepada orang yang secara kedudukan dan status lebih tinggi, karena sangat tidak sopan.

Contoh:
Manéh saré di mana peuting?
御前、昨日の晩、どこで寝た?

Tingkatan bahasa atau undak-usuk basa Sunda yang terakhir adalah sopan (untuk diri sendiri) atau lemes (keur sorangan) dan Kenjougo jika dalam bahasa Jepang. Gunanya adalah untuk merendahkan pernyataannya pada saat mengungkapkan kegiatan yang dilakukan oleh pembicara sendiri. Dengan demikian, tidak dapat mengungkapkan kegiatan yang dilakukan oleh orang lain.

Contoh:
Sim abdi nembé dongkap ti kampus.
私は大学から帰ったところでございます。

Bahasa Jepang memang lebih erat hubungan kebahasaannya dengan bahasa Sunda. Dan lebih mudah untuk menerjemahkan bahasa Jepang ke dalam bahasa Sunda ketimbang ke dalam bahasa Indonesia. Karena pada dasarnya bahasa Sunda dan bahasa Jepang memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama bermain dalam nuansa kebahasaan. Seperti yang kita ketahui bahwa di dalam bahasa Sunda terdapat berbagai macam istilah yang tidak dapat diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, begitupun dengan bahasa Jepang.

Setiap bahasa memiliki keunikan tersendiri. Ia menjadi indah dalam lingkupnya. Estetikanya dapat menimbulkan berbagai reaksi lawan bicara. Termasuk ketika pembicara salah memilah bahasa. Dewasa ini, pengguna bahasa Sunda sendiri sering merasa kesulitan dalam menggunakan undak-usuk basa, tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menggunakan bahasa Indonesia saat sedang berbicara dengan orang yang secara status dan kedudukan lebih tinggi. Mereka takut salah memilah bahasa mana yang harus dipakai sehingga berdampak pada salah arti. Bahasa Sunda memiliki undak-usuk basa yang tidak dimiliki bahasa Indonesia dan mungkin sebagian besar bahasa lain. Drs. Abdul Chaer dalam bukunya Linguistik Umum, “setiap bahasa memiliki ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya”.

Sumber

Wawancara
Nama : Septiadi Angga Yuda
NIM : 0803070
Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah 2008 UPI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar