Kamis, 06 Oktober 2011

ini Disiplin???

Kubunuh engkau dengan egoku
Kuludahi engkau dengan angkuhku
Kusia-siakan engkau dengan dunguku.
(Puisi: Waktu, Chairil Ismail)

Bismillah..
Mungkin saya belum menjadi orang yang setia menjaga waktu, justru masih sering tertelan dalam kubangan hitam waktu yang panjang dan kosong. Dan terkadang berenang di dalamnya yang tak kusadari rawa hiduplah kubangan hitam itu. Satu waktu saya mengadu pada Sang Pemelihara Waktu, “berilah aku waktu lebih dari orang lain, niscaya aku akan merasa cukup”. Namun jawaban itu menelusuk lembut ke dalam hati ini. Bahwa waktu adalah kita yang kendalikan, bukan kita yang dikendalikannya. 
Disiplin. Sangat erat kaitannya dengan waktu. Kerap saya dengar orang-orang berkata kalau orang tepat waktu adalah orang disiplin. Seumpama kita mengacu pada pernyataan tersebut, bisa diartikan bahwa disiplin sama dengan tepat waktu.

Namun definisi disiplin tidak sesempit itu. Disiplin juga bisa diartikan taat pada peraturan yang ada. Ada pula orang yang mengartikan disiplin sebagai penghargaan terhadap waktu.

Dengan mengaca pada diri sendiri, sama sekali tidak pernah terpikirkan akan menjadi seseorang yang berkewajiban mendisiplinkan orang lain. Dalam agama yang saya peluk, menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang justru diri sendiri pun tidak atau belum melakukannya, adalah perbuatan yang dilarang. Namun, ini adalah nyata. Bahwa saya harus menjadi contoh kedisiplinan bagi orang lain. Dalam hal ini adalah adik mahasiswa baru. Mungkin teman-teman sudah dapat menebaknya, kalau saat ini saya tengah mengemban amanah yang cukup berat yaitu sebagai anggota komisi disiplin atau yang lebih familiar disebut komdis!!! Ini bukanlah posisi yang dilarang Allah. Semua kembali pada kondisinya, dimana ketika kita sudah pantas menjadi contoh kedisiplinan bagi orang lain, menjadi komdis universitas pun bukan lagi suatu permasalahan. Justru posisi ini cukup strategis untuk berdakwah. Mengingatkan kedisiplinan kepada adik-adik adalah perbuatan terpuji, hanya mungkin caranya sedikit dipoles dengan topeng yang agak kasar. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya. Innama a’malu binniyat.

Di dalam badan ke-komdis-an, terkadang saya merasa jenuh. Bagaimana tidak, entah hanya perasaan saja atau memang kenyataan, kedisiplinan dan ketegasan yang terlalu dipaksakan atasan membuat saya merasa sulit bergerak. Saya adalah mahasiswa yang juga mengemban amanah lain selain di posisi ini. Saya berada di beberapa posisi yang cukup strategis di tatanan kemahasiswaan, sehingga wajar ketika sedikit lebih sibuk ketimbang teman-teman lain yang hanya mengemban di satu posisi. Ketika mereka yang saya anggap atasan tidak sudi lagi mengenal toleransi, dampaknya adalah kepada bawahan yang notabene harus ikut dengan instruksi atasan. Namun seperti apa yang selalu saya katakan pada adik mahasiswa baru, “jangan telan bulat-bulat instruksi dari kami. Pikirkan dulu, pertimbangkan dulu kelogisannya, kritisi dulu!!” saya pun mencoba untuk melakukan hal tersebut. Tidak langsung menelan bulat-bulat instruksi dari orang yang diutus menjadi atasanku saat ini. Namun kritisi yang selama ini saya lontarkan entah kenapa selalu mendapat penolakan. Balik lagi, kalau menurut pedoman hidup (Al-Qur’an dan Assunah), yang penting usaha, untuk hasil serahkan pada Yang Maha Kuasa. Hmm..Oke!

Akhirnya mengalah.

Namun pandangan orang lain terkadang melenceng, menganggap orang mengalah adalah orang lemah yang mudah dikalahkan. “Mengalah bukan berarti kalah ya mas, mbak!”. Suatu hari ada pemberitahuan mendadak via Short Message Service, menginfokan bahwa esok hari pukul 3.00 wajib hukumnya kumpul. Pada waktu yang dimaksud melalui pesan singkat itu ada jadwal pembukaan tutorial SPAI, salah satu rangkaian perkuliahan dan salah satu syarat kelulusan mata kuliah SPAI (Seminar Pendidikan Agama Islam). Saya membalas sms dan mengatakan hal yang sesungguhnya. Namun kekecewaan lagi dan lagi memayungi. Bagaimana tidak, ternyata balasan sms selanjutnya adalah, “tolong prioritas!!! Kamu komdis sekarang!!!”. Degggg!!! “Memangnya kalau komdis tidak boleh mengikuti perkuliahan? Saya datang jauh-jauh ke negeri orang untuk menuntut ilmu!!! Bukan untuk menjadi komdis! Tentu saja prioritas kuliah berada jauh di atas komdis!!!!!!” gerutuku dengan emosi yang membuncah tak terbendung, meluap bersama air mata kekecawaan ke sekian kalinya. Namun, sangatlah tidak dewasa ketika berdebat hanya lewat pesan singkat! Tidak gentle! Kekecewaan kali ini benar-benar sudah tak tertahankan. Serasa didiskriminasi! Oke, mungkin saya belum pantas dikatakan sebagai komdis, karena saya sendiri masih belum disiplin dan tentu belum bisa mendisiplinkan orang lain. Saya tidak peduli bagaimana orang yang tadi saya katakan sebagai atasan itu sudah pantas dikatakan komisi disiplin atau belum. Saya tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk memikirkan hal yang tidak ada ahsannya untuk saya pribadi. Kalau keadaannya seperti ini, pasti selalu mengaitkan dengan komitmen! Ya, saya memang berkomitmen menjadi komdis! Tapi hanya pada Allah, diri sendiri dan orang yang sejak tadi saya sebut sebagai atasan. Dan jauh sebelum saya berkomitmen menjadi komdis, saya sudah berkomitmen pada Allah, Mama, Papa dan diri saya sendiri untuk berkuliah. Komitmen awal memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat. Jauh lebih beralasan untuk tidak meninggalkannya.

Kembali lagi kepada definisi disiplin yang saya ambil di atas. Salah satunya adalah taat pada peraturan. Tolong pahami dulu peraturan dalam berorganisasi apa. Ada kaitannya dengan prioritas kan ya? Tolong baca kembali catatan kecil yang dulu pernah Anda tulis ketika mewawancarai saya.

Kritisasi yang saya lontarkan mungkin tidak akan didengar oleh mereka. Namun sebagai mahasiswa yang memiliki kesenangan menulis, saya salurkan emosi dan kekecewaan ini lewat tulisan. Maaf untuk pihak yang sensornya terlalu tipis dalam narasi ini. Maaf untuk kekecewaan yang belum kunjung kering. Maaf untuk memposting ini di situs pribadi saya. Saya menggunakan kartu hak asasi manusia dan Anda yang merasa tersinggung, tidak memiliki hak untuk marah, karena saya tidak menyebutkan inisial apalagi nama Anda. Terima kasih untuk yang bersedia membaca. Semoga menginspirasi, bahwa disiplin bukanlah antitoleransi bukanlah overtegas dan bukan juga peraturan tak berperikemahasiswaaan.

Wallahu ‘alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar