Dalam diam, kucoba memanggil lirih nama-Mu
Antara malu dan rindu
Aku mengintip tipis catatan malaikat Raqib danAtid
Pantas saja diri ini merasa semakin menghitam
Ternyata Tuhan telah kecewa sangat dalam
Aku masih yakin Tuhan akan memaafkan
Namun, hingga nafas ke sekian
Tuhan tak kunjung menjawab doaku
Karena ujub itu masih meninggi, mungkin
Nampaknya aku butuh charger yang lebih ampuh
Karena rindu ini sudah sulit kutepis
Malu ini perlahan memudar
Tergantikan keyakinan yang mendalam
Aku tahu Engkau punya rahasia, Tuhan
Kini aku sangsi
Luasnya samudera maaf-Mu
Mungkin hanya untuk hamba-hamba pilihan-Mu
Aku sangsi aku bukan pilihan-Mu
Lembutnya hati yang Kau janjikan
Mungkin hanya untuk mereka yang setia dengan-Mu
Aku sangsi aku setia
Kini aku dalam teropong gelap nan dingin
Meraba, mencari dan memimpikan Rahmat itu
Sudi menghampiri
Tuhan, dalam bentuk remuk ini
Aku tetap mengingini-Mu
Meski masih dalam kolam lumpur
Aku masih mencoba berenang ke tepi
Mencoba untuk mandi
Dan mengimplementasikan:
Aku rela Islam agamaku
Aku rela Allah Tuhanku
Aku rela Muhammad nabiku
Meski masih tak berbentuk
Aku mengazzamkan diri
Untuk tetap di jalan-Mu
Meski telah jauh dari rel-Mu
Aku tetap ingin bersama-Mu
Kau cinta hakiki yang kuingini hingga nanti
Cirebon, 30 Juli 11
Tidak ada komentar:
Posting Komentar