Sabtu, 18 Februari 2012

Sajak yang Tertunggu

Wahai imamku...
Teduh pandanganmu akan mampu redakan amarah yang mengapi-api ini. Akan sanggup membungkam ambisi yang menganga dan masa lalu yang pasti terlupa.
Tentang kita.
Mungkin kini ketukan pintu itu masih belum kudengar. Dan kau. Entah sudah menunggu di perbatasan atau masih mencari perbekalan. Naluriku terbatas untuk membacanya.
Meski senja itu belum hadir dan siang masih menyongsong mentari yang terlihat 
memar, namun peraduan itu pasti ada. Aku akan menunggumu di batas waktu.

Duhai Penggenggam waktu.
Terangkan padaku arti menunggu. Serahkan senja itu di waktu yang aku mampu membacanya. Kelak Kau melihatku tersenyum menghampiri-Mu. Namun, apakah aku akan sendiri menyapa-Mu?

Wahai Pemelihara waktu.
Ini tentang cinta yang berlandaskan nama-Mu. Dan Kau tahu itu. Tentang cinta yang menambah keyakinan ini, tak kuasa sendiri merasakannya. Dan cintaku padanya adalah surga yang tak bisa kumasuki jika tanpanya. Karena aku adalah tulang rusuk baginya, kami berjalan di rel-Mu, berlutut mengharap ridha dan rahmat-Mu. Dan suatu waktu kami akan menghadap-Mu. Kami akan bersama menjalaninya.

Tentang ridha yang memayungi janji.
Akan datang suatu hari dimana janji terukir dan nama-Mu tetap menjadi dasarnya. Pada hari itu, senja sudah turun dan ridha-Mu perlahan membuka dan memayunginya. Itulah senja terindah sepanjang waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar